Monday, 26 February 2018

Ustaz Abdul Somad di Mata Artis Dewi Sandra dan Virgoun

Portal Islam Media - Cukup banyak masyarakat yang gemar mendengarkan petuah atau ceramah dari ustaz Abdul Somad. Mulai dari kalangan rakyat biasa, pejabat, hingga artis Tanah Air. Terlebih, bisa jadi paska salah satu akun media sosial ustaz Abdul Somad yang tumbang, dai asal Riau tersebut pun akhirnya makin banyak diganderungi para artis, salah satunya adalah Dewi Sandera.

Dewi Sandra mengaku nampak menikmati betul ilmu-ilmu yang diberikan oleh ustaz Abdul Somad. Bahkan dia menyebut bahwa ustaz Abdul Somad sebagai pria cerdas.
“Pendapat saya tentang beliau singkat. I think.... he is brilliant. Dan jika ada yang tidak setuju nggaapa-apa banget.... Tidak akan mengubah pendapat saya. Tiga jam mendengar beliau memberikan kajian dengan ciri khasnya, logat melayu yang kental, a little english here and there, serius ya serius, jelas beliau sangat berilmu dan semua hadist dan dalil dijelaskan dengan amat sangat fasih, tentunya tidak ketinggalan his wonderful sense of humor,” demikian pengakuannya di akun Instagram pribadi miliknya, Senin (26/02/2018).
Ia juga menyanjung ustaz Abdul Somad yang dinilainya cukup sabar dalam melayani banyaknya pertanyaan yang datang. Padahal waktu yang ada sekiranya menurut dia tidak cukup.
“Kesabaran menjawab setiap pertanyaan meskipun waktu semakin malam, but the thing that got me the most, was his silence. Ketika acara selesai, ketika ia diam melihat dunia kembali berbising... the strength in his peacefulness was so powerful to see.  @ustadzabdulsomad. Barakallah Fii.”
Pun apresiasi itu juga datang dari artis lain seperti Virgoun Tambunan dari band Lastchild. “Dari dulu susah banget dapet waktu buat ikut kajian beliau….alhamdulillah bisa ketemu dan denger kajian beliau langsung,” katanya, di akun Instagram pribadinya, Senin (26/02/2018). [portalislammedia]

sumber : voa islam.com

Friday, 23 February 2018

Ulama Diserang, Jendral Gatot : TNI dan Polri Harus Bersama-Sama Menjaga Para Ulama

Portal Islam Media - Terkait dengan beberapa kejadian yang menimpa beberapa pemuka agama akhir-akhir ini, jendral TNI, Gatot Nurmantyo menghimbau agar umat Islam, TNI dan Polri bersama-sama menjaga para ulama dan ustaz. Ulama adalah pewaris nabi, ajaran nabi diajarkan dan diteruskan di dunia ini oleh para ulama.
“Dalam sebuah hadist nabi disampaikan bahwa 1 ulama setara dengan 10.000 umat. Bahkan dalam Qur’an surat Ali-Imran ayat 18, para ulama disejajarkan dengan malaikat,” demikian pesannya, melalui akun Twitter pribadi miliknya, Rabu (21/2/2018).
Sejarahpun, lanjutnya, mencatat bahwa Resolusi Jihad adalah hasil inisiatif dari KH. Hasyim Ashari yang lahir dari istiqarah. Dan sesungguhnya Panglima TNI pertama, Jenderal Sudirman, adalah seorang santri. “Sayapun akhirnya sempat menjadi panglima karena bimbingan para ulama.
Saya mengucapkan terimakasih atas nama seluruh prajurit TNI kepada para ulama yang telah menjaga keamanan dari zaman pra kemerdekaan serta membangun umat Islam yang rahmatin lil allamin hingga kini.” Sebelumnya, dan sebagaimana yang diketahui bahwa banyak pemuka agama (Islam) diserang oleh orang yang diduga gila. Bahkan ada ulama yang hingga mati diserang oleh orang gila.pungkasnya,[portalislammedia]


sumber : voa islam.com
Pemuda Muhammadiyah Desak Densus 88 Terbuka Soal Kematian MJ

 Jakarta – Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak berkomentar terkait kematian Muhammad Jefri (MJ), terduga teroris yang ditangkap Densus 88 dan dipulangkan dalam kondisi meninggalkan dunia.

“Terlepas dari apakah Muhammad Jeffri terlibat dalam jaringan terorisme atau tidak, saya menganggap Densus 88 atau Polisi harus terbuka terkait dengan kematian Muhammad Jefri,” ungkapnya melalui rilis yang diterima Kiblat.net, Rabu (13/02/2018).
“Polisi jangan sampai mengabaikan penegakan hukum yang beradab, dan terus mengulangi preseden buruk kematian Siyono di Klaten, yang saya dan Pemuda Muhammadiyah tangani, 1,5 tahun yang lalu. Karena peristiwa seperti ini bukan justru mengubur terorisme namun justru mereproduksi terorisme baru,” lanjutnya.

Dahnil pun menyebut ada banyak sinyal kejanggalan terkait dengan kematian MJ, yang karenanya, agar sinyal kejanggal-kejanggalan tersebut tidak menjadi fitnah dan tuduhan terhadap Kepolisian. Densus 88 diminta menjelaskan secara terbuka hasil autopsi terhadap MJ.


“Penting juga dilakukan autopsi yang lebih independen terkait sebab kematian MJ, apakah benar yang bersangkutan meninggal karena komplikasi penyakit seperti keterangan polisi, atau karena faktor yang lain,” ungkapnya.

Densus 88 pun juga harus bisa menjawab, kenapa keluarga dilarang membuka kafan jenazah MJ pada saat diserahkan kepada keluarga.
“Jadi, saya berharap Densus 88 dan Kepolisian terbuka, dan bila memang ada kesalahan maka harus ada hukuman pidana yang jelas, tidak seperti kasus Siyono yang sampai detik ini tidak jelas penuntasan hukumnya, meskipun autopsi terang sudah membuktikan Siyono meninggal karena penganiyayaan bukan karena yang lain,” ungkapnya.

Lalu, Dahnil juga menyarankan keluarga untuk berusaha mencari keadilan secara aktif dan tidak perlu takut. Ia mempersilahkan keluarga untuk membawa kasus kematian MJ ke Komnas HAM agar bisa ditangani oleh institusi negara tersebut, untuk dibuktikan penyebab kematian MJ.

“Ini penting, dan polisi tidak boleh tertutup terkait dengan hal ini,” tutupnya.
Densus 88 menangkap terduga teroris MJ di Indramayu pekan lalu. Sehari setelah diambil, MJ dilaporkan meninggal. Pihak Kepolisian mengatakan kepada keluarga, MJ meninggal karena komplikasi. Sementara Istri MJ kepada media mengaku, suaminya tidak memiliki riwayat penyakit.

Jasad MJ diserahkan kepada orang tuanya di Kabupaten Tanggamus, Lampung. Pemakaman dilakukan diam-diam. Keluarga tidak boleh membuka kain kafan yang sudah membungkus jasad MJ sejak dari Jakarta. Pihak keluarga pun enggan berbicara kepada media saat pemakaman.[portalislamedia]

sumber : kiblat.net

Thursday, 22 February 2018

Saksi Ahli JPU: Alfian Tanjung Tak Dapat Dipidana Karena Cuitannya

Portal Islam media - Saksi ahli ITE yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum dalam sidang kasus pencemaran nama baik dengan terdakwa Alfian Tanjung memberikan keterangan mengejutkan.


Muhammad Salahuddin Manggalani mengatakan bahwa cuitan Alfian Tanjung tidak memiliki unsur pidana. Hal itu berdasarkan Pasal 310 ayat 3 KUHP yang berbunyi, “Tidak merupakan pencemaran atau pencemaran tertulis jika perbuatan jelas dilakukan demi kepentingan umum.”


“Alfian Tanjung berhak atas cuitannya di Twitter karena dia merupakan pakar dan pemerhati dalam bidangnya,” ujarnya pada Rabu (21/02/2018) di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

“Kalau yang bersangkutan adalah pakar, maka dia berhak,” kata pria bernama alias Didin Pataka itu.

Kuasa hukum Alfian Tanjung, Muhammad Alkatiri menguatkan keterangan saksi ahli. Dalam persidangan tersebut, ia menjelaskan bahwa kliennya memang benar seorang pakar dan pemerhati.


“Dia (Alfian Tanjung) sudah diundang kemana-mana sebagai narasumber tentang masalah komunis,” katanya.

Alfian Tanjung didakwa dengan pasal 27, 28, 29 di UU ITE terkait hate speech dan pasal 310 tentang pencemaran nama baik khususnya terhadap golongan. Ia dilaporkan karena cuitan di Twitter tentang “85% Kader PKI ada di PDIP”[portalislam-media]


sumber : kiblat.net
Tak Trauma, Novel Baswedan akan Terus Salat Subuh di Masjid

Jakarta - Penyidik KPK Novel Baswedan sudah kembali ke rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Meski kondisi matanya masih belum sempurna, Novel tidak absen menunaikan salat di Masjid Al-Ihsan yang tak jauh dari rumahnya.

Setibanya di rumah sore tadi, Novel menyempatkan diri terlebih dulu salat Ashar di Masjid itu. Novel juga kembali ke masjid untuk salat magrib.

Novel keluar rumah untuk salat Magrib di Masjid pukul 18.20 WIB. Dia jalan kaki menuju masjid sambil digandeng oleh salah satu pengurus masjid.

Novel mengatakan, kebiasaan salat di masjid akan terus dilakukan. Bahkan, dia tidak trauma untuk melaksanakan salat subuh di Masjid.

"Iya lah harus (salat subuh), iya insyaallah (ke Masjid)" kata Novel usai salat magrib di Masjid Al-Ihsan, di Masjid Al Ihsan, Jalan Masjid Al Ihsan RT 03 RW10, Pegangsaan dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (22/2/2018).

Seperti diketahui, sekitar 10 bulan lalu selepas salat Subuh di masjid itu, Novel mengalami teror penyiraman air keras.

Baca Juga :Skak Mak !! Anies Baswedan Bungkam Peernyataan Luhut Binsar Panjaitan soal Reklamasi

Saat itu, 11 April 2017, Novel tengah berjalan kaki dari masjid tersebut menuju rumahnya di Jalan Deposito, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Di tengah perjalanan, ada 2 orang yang mengendarai sepeda motor memepetnya dan menyiramkan air keras ke wajah Novel. [portalislam-media]

sumber : detiknews.com
PBB Tidak Diloloskan KPU, Politisi Demokrat: Ini Zaman Edan

Jakarta - Salah satu politisi Demokrat menyebut bahwa kekuasaan saat ini, terkait lembaga negara tidak bijak dalam menjalankan fungsinya. Misalkan saja terkait tidak lolosnya Partai Bulan Bintang (PBB) oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).
“Ini zaman edan, setiap instansi, badan, lembaga negara resmi sedang berlomba mendemonstrasikan kekuasaan tanpa kebijaksanaan. PBB adalah partai yang menjadi sahabat akrab Partai Demokrat, konsisten dan selalu dalam satu barisan, kami sedih jika PBB tidak diloloskan,” kata Andi Arief, melalui akun Twitter pribadi miliknya, Rabu (21/2/2018).
Menurut Andi, harusnya lembaga terkait tidak menyulitkan parpol yang ingin ikut partisipasi dalam pesta demokrasi. Harus mengacu pada UU yang ada. “UU, Peraturan yang berdimensi partisipasi politik bukan untuk menyulitkan, tapi memudahkan, selain kewenangan KPU harus punya kebijaksanaan.”


Sebelumnya Ketum PBB, Yusril Ihza Mahendra menyatakan bahwa Hari Jum’at 23/2 besok Bawaslu akan memeriksa gugatan PBB melawan KPU. Alat bukti termasuk saksi dan ahli sudah disiapkan. “Kami menolak keputusan KPU yang menyatakan PBB tidak lolos ikut Pemilu, karena TMS di Kab. Manokwari Selatan. Enam anggota PBB di Kab. Mansel, Papua Barat telah hadir ke kantor KPU Mansel untuk diverifikasi.[portalislam-media]

sumber : voa islam.com
Benarkah Gelar Haji Warisan Belanda ?

Oleh: Tiar Anwar Bachtiar 
Doktor Sejarah Universitas Indonesia, Pembina JIB
Portal Islam Media – Beberapa waktu ke belakang ini tersebar beberapa tulisan entah darimana sumbernya yang mengatakan bahwa gelar “haji” pada masa Indonesia masih dijajah oleh Belanda merupakan pemberian dari pemerintah Kolonial Belanda sendiri. Hal demikian sengaja diberikan untuk mengawasi siapa-siapa saja yang yang telah menunaikan haji ke Mekah. Mereka penting untuk dikenali dan diawasi mengingat pemberontakan-pemberontakan terhadap pemerintah Belanda banyak dilakukan oleh mereka yang telah menunaikan ibadah haji ke Mekah. Oleh sebab itu, untuk memudahkan Belanda mencegah kaum Muslim yang pulang haji melakukan pemberontakan, maka disematkanlah gelas “haji” di depan nama mereka. Benarkah demikian?
Jawaban atas pertanyaan di atas adalah “tidak”. Bahkan, kesimpulannya tergategori gegabah dan terlampau simplisistik. Kesimpulan sejarah simplisistik semacam ini sering muncul di tengah masyarakat Indonesia yang pada umumnya awam sejarah. Buku-buku sejarah dan kajian-kajian sejarah yang baik dan serius jarang menjadi bacaan masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu, wajar bila cerita-cerita seperti di atas muncul. Tujuannya mungkin untuk menunjukkan bahwa menggunakan gelar “haji” bukan merupakan hal yang terpuji. Untuk itu perlu dicari legitimasi sejarah dari mana gelar itu datang. Muncullah kemudian cerita rumor seperti di atas yang kalau dicari sumbernya amat sulit, karena seringkali hanya merupakan dugaan-dugaan yang kemudian menyebar menjadi cerita dari mulut ke mulut.
Sayang sekali, cerita semacam ini pada era media sosial yang amat cepat memassifkan informasi hanya dari sumber tunggal segera menjalar ke mana. Bahkan, kekuatan ceritanya semakin diperkuat manakala website milik ormas besar ikut menyebarkannya. Sebut saja contohnya dalam “Asal-Usul Gelar Haji” yang dimuat di nu.or.id. Dalam situs ini dikutip pendapat Agus Sunyoto yang menyebut adanya “Ordonansi Haji” tahun 1916 yang mewajibkan penggunaan gelar haji untuk mengawasi para haji, karena umumnya sering menjadi pemimpin perlawanan di Indonesia. Pendapat ini kemudian di-copy paste oleh situs-situs yang lain dan menyebar secara massif ke mana-mana sehingga dianggap sebagai sebuah kebenaran.
Kelemahan pertama pendapat di atas adalah mengutip “Ordonansi Haji 1916”. Persoalannya bukan pada pengutipan atau penyebutan, melainkan pada keberadaan ordonansinya itu sendiri. Sepanjang periode Hindia Belanda (1800-1942) peraturan (ordonansi) mengenai haji terbit pada tahun 1825 tentang pembatasan kuota jamaah haji, 1859 tentang aturan pelaksanaan haji, dan 1922 yang berisi aturan tentang pelayanan haji yang lebih baik. Tidak ditemukan sama sekali ada ordonansi haji tahun 1916. Kalaupun ada bukan ordonansi, melainkan pelarangan menunaikan ibadah haji oleh pemerintah terkait tengah belangsungnya Perang Dunia I yang dikeluarkan sejak tahun 1915, walaupun dalam praktiknya jamaah haji Indonesia tetap banyak yang berangkat meski jumlahnya menurun dari tahun-tahun sebelumnya. Pelarangan ini juga tidak ada kaitan dengan masalah ideologis atau gelar, melainkan terkait masalah keamanan perjalanan haji. (lihat: Saleh Putuhena, Historiografi Haji Indonesia, 2007: 170-173; Husnul Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, 1996: 92-98).
Kedua, tidak benar bahwa gelar haji baru dipakai sejak tahun 1916. Bahkan, pernyataan ini menunjukkan keteledoran sejarah yang fatal. Berbagai fakta yang jumlahnya tidak terhitung banyak sekali yang menunjukkan bahwa gelar “haji” sudah dipakai sejak lama di Indonesia bahkan sejak sebelum Zaman Klonial. Salah satunya yang dikemukakan oleh Henri Chambert-Loir dalam Naik Haji di Masa Silam (2013:  33-34). Ia menyebut bahwa pada tahun 1674, anak Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten naik haji. Ia merupakan anak raja di Jawa yang pertama kali naik haji. Sepulang dari Mekah tahun 1675, ia kemudian disebut sebagai “Sultan Haji”. Sebelumnya, beberapa bangsawan Banten sudah berangkat haji juga pada tahun 1638 dan 1651. Sepulang dari Mekah, mereka menyematkan gelar “haji” di depan namanya, yaitu Haji Jayasantana dan Haji Wangsaraja, lalu Haji Fatah. Fakta ini menunjukkan bahwa sejak lama gelar “haji” sudah populer di Indonesia, dan sama sekali bukan buatan Belanda. Bila pada abad ke-17 saja gelar “haji” sudah populer, apalagi abad-abad selanjutnya. Pada saat Sarekat Islam didirikan tahun 1911, pendirinya sudah populer disebut “haji”, yaitu Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto.
Ketiga, mengenai gelar haji ini justru sikap Belanda malah ingin menghapuskannya, hanya saja mereka tidak sanggup melakukan itu. Hal ini terlihat jelas dari Ordonansi Haji tahun 1859. Salah satu ketentuan dalam ordonansi ini adalah bahwa sepulang dari Mekah mereka harus menempuh ujian mengenai masalah Mekah dan Islam. Hanya apabila mereka lulus ujian ini, barulah mereka dianggap berhak untuk mempergunakan gelar haji di depan nama mereka. Ujian ini maksudnya untuk mengurangi pengaruh orang-orang haji yang tidak disenangi pemerintah terhadap masyarakat. Sebab, di masyarakat umum, mereka yang pernah pergi haji dan menggunakan gelar haji mendapatkan apresiasi yang lebih tinggi dari masyarakat. Agar mereka tidak berpengaruh lagi; atau minimal dapat mengurangi pengaruh mereka, maka penggunaan gelar “haji” justu ingin dihilangkan oleh Belanda. (Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia, 1993: 32).
Alasan ketiga ini semakin diperkuat dengan kenyataan bahwa pada masa lalu, terutama pada akhir abad ke-19 dan awal ke-20 posisi mereka yang pernah menunaikan ibadah haji ke Mekkah sangat penting dan strategis. Mereka yang melaksanakan ibadah haji pada masa itu, disebabkan faktor geografis, menyebabkan perjalanan haji menjadi perjalanan yang sangat penting. Perjalanan haji bukan hanya sekedar menjadi perjalanan spiritual belaka seperti yang kita saksikan akhir-akhir ini setelah transportasi udara massal mudah diakses. Perjalan haji pada masa itu adalah juga perjalanan mencari ilmu dan membangun relasi internasional. Mereka pada umumnya bermukim di Mekah atau Jeddah dalam waktu yang cukup lama sebelum atau sesudah melaksanakan ibadah haji. Selama mereka berada di sana, sebagian besar menggunakannya untuk belajar dan membangun relasi internasional.
Selama mereka “ngelmu”dan membangun jaringan di Tanah Suci, terbangunlah kesadaran tentang kondisi tanah air mereka yang sedang terjajah sama seperti di belahan dunia Islam yang lain. Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila pada masa Kolonial Belanda banyak tokoh yang sepulang haji tampil menjadi tokoh-tokoh pergerakan yang memapu mempengaruhi masyakarat untuk melawan pemerintah Belanda. Salah satu yang cukup penting adalah munculnya gerakan pembaharuan Islam di Sumatera Barat yang sekaligus menjadi motor perlawanan terhadap Belanda, yaitu kaum Padri. Cristian Dobbin dalam Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri Minangkabau 1784-1847 (2008: 198-202) menjelaskan bahwa munculnya para pemimpin Padri dan pengaruh mereka terhadap masyarakat tidak terlepas dari pengaruh yang didapatkan dari kawasan Hijaz sepulang haji. Pengaruh ini bahkan semakin kuat hingga mampu menggerakkan masyarakat untuk angkat senjata melawan Belanda pada Perang Padri (1833-1838).

Pengaruh gerakan para haji ini semakin menguat memasuki abad ke-20. Hasil ngelmu di Mekah dari guru-guru mereka dan kenalan mereka sedunia menginspirasi para haji ini untuk membuat suatu terobosan gerakan baru selain gerakan militer seperti para pendahulu mereka. Pendekatan baru yang dimaksud adalah pendekatan politik dengan cara mendirikan organisasi-organisasi gerakan yang cukup efektif untuk mendapat dukungan rakyat secara langsung. Mula-mula Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) tahun 1905; lalu Hadji Oemar Said Tjokroaminota memperluas cakupan politiknya dengan mendirikan Sarekat Islam (SI) pada tahun 1911. Setahun berikutnya 1912 Haji Ahmad Dahlan yang pernah tinggal cukup lama di Mekah mendirikan organisasi Muhammadiyah yang berfokus pada pendidikan dan kegiatan sosial untuk membentengi umat dari pemurtadan. Tahun 1923 di Bandung Haji Muhammad Yunus dan Haji Muhammad Zam-zam mendirikan Persatuan Islam (Persis), Haji Abdul Halim mendirikan Persyarekatan Ulama di Majalengka, dan contoh-contoh lain yang jumlahnya cukup banyak. Gara-gara haji ini juga, para pengasuh pesantren akhirnya menempuh jalan para aktivis Islam dengan mendirikan Nahdhatul Ulama (NU) pada tahun 1926.
Munculnya gerakan-gerakan Islam tersebut semakin menekan posisi politik Belanda di tanah jajahannya ini. Oleh sebab itu, Belanda berusaha untuk menekannya supaya tidak berbahaya. Masuk akal bila tahun Ordonansi Haji tahun 1859 membatasi dan cenderung melarang penggunaan gelar “haji”, karena masyarakat memang amat menghormati gelar ini sejak lama. Ini jelas sekali menunjukkan bahwa gelar “haji” bukan pemberian Belanda, melainkan budaya yang sudah melekat lama di kalangan kaum Muslim di Indonesia. Wallâhu A’lam.[portalislam-media]
sumber :jejakislam.net

Wednesday, 21 February 2018

Habib Rizieq: Semangat Pulang Saya Berkobar, Ada Upaya Pembebasan Ahok



Jakarta -  Meski batal hari ini, Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab menegaskan akan terus berupaya pulang ke Indonesia. Salah satu penyebabnya karena Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengajukan PK terkait kasus penistaan agama.

Rizieq mengatakan, dirinya merasa resah karena ada sejumlah kasus dugaan penistaan agama yang telah dilaporkan, namun hingga kini belum diproses Polri. Sementara kasus yang menjerat ulama dan aktivis Islam tidak ada satu pun yang di-SP3 atau dihentikan.

"Bahkan salah satu dari penista agama justru terang-terangan kasusnya di SP3-kan dan diumumkan secara terbuka di berbagai media seperti kasus Ade Armando," kata Rizieq lewat rekaman pembicaraan melalui telepon yang diperdengarkan di Masjid Baitul Amal, Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu (21/2/2018).


Rizieq juga mengatakan, dirinya merasa prihatin dengan sejumlah kasus penyerangan terhadap ulama di Indonesia.

"Saudaraku yang tersayang, hati ini semakin sakit, sedih dan pedih tatkala kini para ulama dan aktivis Islam hingga imam masjid dan marbotnya diserang dan dianiaya. Itu sebabnya semangat pulang saya semakin berkobar. Apalagi kini ada kabar tentang upaya dari para pencundang untuk membebaskan si Ahok sang penista agama melalui PK di Mahkamah Konstitusi RI," papar Rizieq.

Menurut Rizieq, Ahok tidak biisa mengajukan peninjauan kembali (PK) di MA karena menerima putusan di persidangan dan tidak mengajukan banding.[portalislam-media]

sumber :detiknews.com

Tuesday, 20 February 2018

Pengamat: Berpasangan Dengan Sandal Jepit pun Jokowi Menang

Portal islam media - Pengamat komunikasi politik Ari Junaedi memprediksi, elektabilitas Joko Widodo akan tetap unggul dibanding Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto pada Pilpres 2019.
Bahkan jika Gerindra berkoalisi dengan Partai Demokrat dan memunculkan pasangan Prabowo-Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Jokowi masih akan tetap unggul.
“Andai juga PDIP bergandengan dengan Demokrat mengusung Jokowi-AHY, melawan duet Prabowo-Anies Baswedan dengan diusung Gerindra-PKS, saya kira yang menang tetap Jokowi,” ujar Ari Junaedi kepada JPNN, Senin (19/2).
Ari memperkirakan, dukungan terhadap Prabowo berada di kisaran maksimal 45 persen dari total pemilih. Sementara Jokowi minimal menyentuh angka 55 persen.
“Kenapa minimal, karena dukungan pada Jokowi sepertinya akan semakin membesar seiring rampungnya proyek-proyek infrastruktur yang diapresiasi oleh rakyat Indonesia,” ucap Ari.

Meski demikian, pengajar di Universitas Indonesia ini memprediksi Prabowotetap akan maju sebagai penantang Jokowi. Karena adagium yang menyebut, caleg Gerindra bakal mengalami kerugian jika Prabowo tidak dimajukan sebagai capres di 2019, mengandung kebenaran.
Apalagi Prabowo telah menjadi endoser bagi raihan suara para caleg Gerindra yang maju.
“Bagi saya, memajukan Prabowo atau Anies Baswedan sebagai capres Gerindra, tetap akan sulit melawan Jokowi. Fenomena Jokowi di 2019 sama seperti SBY di 2009. Istilah mudahnya, berpasangan dengan sendal jepit pun Jokowi masih akan menang melawan Prabowo,” pungkas Ari [portalislam-media]
sumber : JPNN
Resmi, Ustadz Abdul Somad Dapat Gelar Tertinggi Adat Melayu



portal Islam media -  Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau memberikan gelar adat kepada Ustad Abdul Somad. Penabalan gelar dilangsungkan dalam prosesi majelis penganugerahan gelar kehormatan masyarakat adat Melayu Riau di Balai Lembaga Adat Melayu Riau, Selasa (20/2) pagi.


Ketua LAM Riau Azhar mengatakan, tugas Ustad Somad setelah ditabalkannya gelar tersebut adalah meneruskan pekerjaan untuk menyampaikan dakwah kepada seluruh umat. Serta tidak menjadi ustad partai politik (parpol) maupun sekelompok orang.


“Tugasnya terhadap LAM Riau meneruskan apa yang sudah beliau rintis, jalani tugas beliau menjadi ulama umat. Bukan menjadi ulama parpol atau segolongan orang. Tapi tetap menjadi guru seluruh umat,” ujar Azhar.

‎Abdul Somad merupakan orang ketujuh yang diberikan gelar selama 48 tahun LAM Riau terbentuk. Gelar tersebut merupakan yang tertinggi di adat Melayu. “Gelar Datuk Sri Ulama Setia Negara merupakan gelar yang tertinggi di LAM Riau,” ungkapnya.

Pemberian gelar ini merupakan bentuk kecintaan masyarakat Melayu kepada Ustad Somad yang selalu membawa Marwah Riau dalam setiap dakwahnya. Termasuk saat berdakwah di luar negeri.

Azhar berharap pemberian gelar adat bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat Riau. Terutama kalangan muda untuk membangkitkan kembali kejayaan Melayu pada zaman lampau [portalIslam-media]


sumber : tribunislam.com

Monday, 19 February 2018

Penyerangan Terhadap Ulama Berlanjut, TGB Angkat Bicara

Portal islam media -Penyerangan terhadap ulama dan tokoh agama lainnya dinilai sebagai ancaman terhadap bangsa. Gubernur Nusa Tenggara Barat, Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi meminta pemerintah menuntaskan kasus tersebut. 

Menurutnya, dengan alasan apapun negara harus mampu menghadirkan perlindungan. Jaminan keamanan ini bukan hanya wajib diberikan kepada para ulama namun seluruh anak bangsa.
"Tokoh agama butuh perlindungan spesial, karena mereka yang bergrak di grasroot memberikan pengayoman,memotivasi dan mengarahkan masurakat untuk membangun bangsa," ujarnya usai memberikan tausiyah di Ponpes Assalam Kartasura Sukoharjo, Sabtu (17/2/2018).
Menurutnya, ulama dan tokoh agama merupakan simpul simpul sosial dalam masyrakat.  Jika  simpul-simpul sosial dalam masyarakat itu  terganggu bahkan terancam, maka peran membimbing dan membina masyrakat tidak akan berjalan. Tentu hal ini akan merugikan stabilitas bangsa. 
"Jadi kasus penganiayaan terhadap tokoh agama, terhadap kyai termasuk penyerangan di gereja yang di Jogja itu harus di tuntaskan pemerintah melalui penegak hukum,"pungkasnya.[portalislam-media]
sumber : voa Islam
Di Dzolimi Paspampres Jokowi, Ini Komentar Guberbur DKI Anies Baswedan

 Jakarta – Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menanggapi santai terkait video viral penghalangan dirinya oleh Pasukan Pengaman Presiden (Paspamres) menuju podium saat penyerahan juara kepada tim Persija di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu malam (17/2/2018).

“Yang penting bagi kita adalah Persija menang dan rakyat Indonesia senang,” kata Gubernur

“Gini dari tadi malam itu yang penting Persija menang, saya dimana nggak penting yang penting Persija menang saya merasa bangga,” kata Anies di Balai Kota DKI Jakarta, Minggu saat menerima tim Persija yang membawa tropi Piala Presiden 2018.



Selanjutnya, dia mengatakan turun ke lapangan menemui para pemain dan mengucapkan selamat
“Yang penting bagi kita adalah Persija menang dan rakyat Indonesia senang,” kata Gubernur.
Saat ditanya apakah dicegah oleh Paspamres, Anies seperti mengelak. “Kelihatannya gimana? pokoknya yang penting Persija menang,” katanya lagi, seperti dikutip Antara.
Persija melawan Bali United menang 3 – 0 dengan pencetak gol Marko Simic sebanyak dua kali dan Novri Setiawan.
Anies saat pertandingan antara Persija melawan Bali United, dia nonton bersama dua anak laki-lakinya yakni Kaisar dan Ismail serta keponakannya bernama Raonar.[portalislam-media]

sumber : Indonesiaraya.co.id

Sunday, 18 February 2018

Kembali  Orang Gila Serang Ulama,Kali Ini Korbannya Pimpinan Pesantren Muhammadiyah di Karangasem

portal Islam Media -  Orang gila kali ini membuat serangan teror ke Pondok Pesantren Karangasem, Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Ahad 18 Februari 2018, menjelang masuk waktu Zuhur. Pimpinan Pengasuh Pondok Pesantren tersebut, KH. Abdul Hakam Mubarok, nyaris menjadi korban kekerasan.
Saat kejadian itu, menurut KH. Abdul Hakam Mubarok yang karib disapa Ustaz Mubarok, sekira Pk 11.45. Di Pendopo (ruang terbuka, red) di sebelah masjid Al Manar di tengah Pondok Pesantren Karangasem,  tampak ada orang berpakaian lusuh, yang menjadikan pandangan sangat jorok.  Bahkan  menjadikan kotor pendopo yang juga digunakan untuk shalat, menampung luberan jamaah shalat dzuhur dari segenap santri . 
“Saya datangi orang itu. Karena sudah menjadikan pemandangan yang nggak bagus, saya minta dia untuk keluar dari pendopo, karena segera digunakan untuk shalat oleh segenap santri. Dia tidak mau, saya tarik sarungnya, juga tidak mau berdiri. Kemudian saya ambil makanan camilannya. Tiba-tiba dia berdiri dan menantang, “ayo aku wani gelut ora wedi karo awakmu” (ayo aku berani berkelahi, tidak takut dengan kamu, red). Bahkan sudah beberapa kali memukul tapi tidak ada yang mengena,” tutur Ustaz Mubarok yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Lamongan.
Merasa terancam Ustaz Mubarok memilih menghindar. Agaknya masih mengejar. Kemudian berlari, juga masih dikejar. “Sekira lari sejauh 300 meter, saya sudah kehabisan nafas dan tenaga, kemudian jatuh. Dan Alhamdulillah, orang gila tersebut berhasil diringkus oleh banyak santri dan warga. Diseret balik ke pendopo, kemudian ditanya siapa yang menyuruh melakukan serangan, dia menjawab orang Papua, dan pertanyaan selebihnya diam tidak menjawab.
Setelah dari P{ondok Pesantren Karangasem ada yang melapor, segera datang beberapa petugas Kepolisian Sektor Paciran dan Babinsa Koramil Paciran.  “Orang tersebut kemudian kami serahkan ke Kepolisian,” ungkap Ustaz Mubarok sambil menunjukkan luka-luka ringan, lecet-lecet di lutut. Saat itu terungkap pula, orang tersebut belum lama ini juga pernah tertangkap di desa Brumbun, tidak jauh dari Karangasem, karena mencuri sepeda. Kemudian dilepas kembali setelah terindikasi gila.

Sejauh ini belum didapat identitas orang gila penebar terror di Pondok Karangasem Paciran, di kawasan pantai utara (pantura)  Kabupaten Lamongan. Sementara sebelum ini, seperti diberitakan Suara Islam Online Selasa (13 Februari) sekira Pk 02,00, juga terjadi serangan yang dilakukan oleh orang yang diduga mengalami tekanan jiwa terhadap Masjid Baiturrahim di Jalan Sumur Gempol Kelurahan Kingking Kecamatan Kota Tuban, Jawa Timur. 
Masjid Baturrahim, berada dilingkungan Pondok Pesantren Al Islahiyah Al Ghazaliyah tersebut, mengalami pecah kaca di semua bingkai jendela bagian depan. Pondok Pesantren ini, kendati berlokasi di wilayah Kabupaten Tuban, namun juga di wilayah pantai utara, tidak jauh dengan Pondok Pesantren Karangasem di Paciran Lamongan.[portalislam-media]

sumber : suara-islam.com
Sindiran Keras Hidayat Nur Wahid di ILC: Tiba-tiba Tampil Agamis, Berjilbab Jelang Pemilu

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid tampil menjadi narasumber di ILC tvOne tadi malam, Selasa (13/2/2018).


Hidayat Nur Wahid menyatakan kejadian-kejadian akhir-akhir ini banyak kepentingan yang bermain, termasuk kepentingan politik.

Politisi PKS ini juga menyindir kelakuan sejumlah pihak yang tiba-tiba agamis, tiba-tiba tampil berjilbab saat Pilkada/Pemilu/Pilpres, padahal sehari-harinya tidak seperti itu. Itu dilakukan karena kepentingan politis semata.

"Ini menjelang Pilkada dan lain sebagainya, banyak pihak yang tadinya tidak terkait agama, tiba-tiba datang ke pesantren, pakai jilbab, pakai peci..."

"Seringkali agama dibawa-bawa yang tadinya tidak terkait dengan agama..."

Hayooo kira-kira siapa yang kelakuannya seperti itu?

Ada yang tiba-tiba tertunduk dan pura-pura tidak tau 😁

Simak videonya... ada yang clingak clinguk:




sumber : tribunislam.com

MasyaAllah ! Bocah ini urus sendiri Ibunya yang menderita Lumpuh

Lubuklinggau - Warga Kota Lubuklinggau, Rahma Dona Aulia, mendapat cobaan hidup yang tak ringan. Dia harus mengurus ibunya yang lumpuh setelah belum lama ditinggal pergi selamanya oleh sang ayah. 

Kisah tersebut dituturkan oleh Kapolres Lubuklinggau AKBP Sunandar, yang sempat mendatangi kediaman bocah 10 tahun itu di Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan. 

"Dik Rahma ini bisa dibilang kesulitan hidupnya sempurna. Dia harus mengurus ibunya yang lumpuh, ayahnya meninggal 3 bulan yang lalu, dan kakaknya mengalami keterbelakangan mental," kata Sunandar saat dihubungi detikcom, Sabtu (17/2/2018). 


Ibunya, Devi (32), mengalami lumpuh karena kakinya tertimpa pohon saat angin kencang menerpa kawasan tempat tinggalnya. Tulang belakangnya patah dan menyebabkan separuh tubuhnya tak bisa digerakkan. 

Devi saat ini dirawat di rumah dengan terbaring di sebuah kasur usang yang digelar di lantai. Di rumah, selain bersama ibunya, Rahma tinggal bersama kakaknya bernama Ringga (13) dan adiknya, Mapi (4). 

"Dia (Rahma) mencuci, memasak, dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya. Belum lagi dia juga harus pergi ke sekolah," tutur Sunandar. 

Selama ini Rahma dan keluarga hanya hidup dari belas kasihan tetangga dan keluarga. Sunandar mengungkapkan ada tetangga yang memberi ubi mentah saja langsung jadi rebutan oleh Ramha dan adiknya. 

"Yang miris bukan cuma perjuangan Rahma, tapi saya takut ini akan memupus mimpinya," jelas Sunandar. 


Kini polisi tengah menyiapkan sejumlah upaya untuk bisa meringankan beban Rahma dan keluarganya. Salah satunya dengan akan melakukan 'bedah rumah'. 

Bagi Anda yang ingin memberi bantuan untuk Rahma, silakan bisa langsung ke alamat Jalan Perintis RT02, Kelurahan Jogoboyo, Kecamatan Lubuklinggau Utara I, Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan.


Sumber : Detiknews.com

Tuesday, 13 February 2018

Makjleb, Wasekjen MUI di ILC: Orang Waras Tahu Teror ke Ulama Skenario

Portal Islam media - Rentetan aksi teror ke pemuka agama yang terjadi belakangan ini diduga merupakan skenario sistemik. Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnain mengatakan skenario sistemik ini juga mengutip dari pernyataan Din Syamsudin. Dia juga mengibaratkan rangkaian aksi teror ini sudah seperti musim jamur.


"Beliau mengemukakan yang sudah ditulis di beberapa medsos, sudah ramai juga. Kejadian ini adalah skenario sistemik. Jadi ada skenario, tidak mungkin by accident, ini by design. Tidak mungkin tiba-tiba orang gila kayak musim jamur gitu. Musim orang gila muncul, bak, bak, bak, muncul orang gila," kata Zulkarnain dalam acara Indonesia Lawyer Club tvOne, Selasa 13 Februari 2018.

Ia mengatakan, sebagian korban dalam aksi teror ini terjadi di tahun politik menjelang perhelatan Pilkada serentak 2018. Sasaran juga merupakan tokoh agama, bukan tokoh-tokoh lain. "Ini gila benar atau digila-gilain," ujarnya.


Kemudian, ia juga menduga ada skenario di balik banyaknya kejadian penyerangan terhadap ulama. Beberapa ulama dianiaya hingga tewas. "Jadi, skenario ada. Jangan dusta. Semua orang waras tahu teror ini skenario," ujarnya.

Dia menambahkan, adanya dugaan skenario sistemik karena kejadiannya di banyak tempat dengan wilayah yang berbeda.

"Dari mulai Jawa Barat kemudian sampai ke Aceh. Imam Masjid Baiturrahman, Banda Aceh, mau ditikam oleh jemaah di belakangnya. Kemudian tadi di Tuban, masjid dihancurin kaca-kacanya. Belum apa-apa, belum diperiksa di rumah sakit jiwa sudah dibilang gila. Cepat sekali itu gila," ujarnya.




Alasan lain, kata dia, dikatakan sistemik karena yang diserang bukan saja pemuka agama dari agama Islam. Namun, menyasar pemuka agama lain juga menjadi korban.

"Belakangan ini biksu diusir, ada pendeta dibacok, gereja dikejar dan sebagainya. Tepat yang dibilang profesor Din Syamsudin ini sistemik dan terskenario sistemik," ujarnya.


Sumber : Viva.co.id